Senin, 13 Juni 2016

MEMBUKA USAHA BARU

Dra. Entri Sulistari Gundo, M.Si.
Donald Samuel Slamet Santosa, S.Pd., M.Pd.






Oleh :
Erin Putri Mardiana           (162014004)
Jiyem                                  ( 162014017)
Desi Catur Wulandari        (162014024)



FKIP ( PENDIDIKAN EKONOMI )
UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA 2014/2015

Jl. Diponegoro 52-60, Salatiga 50711 Telp. (0298) 311412, Fax (0298) 31141

 

 

 

KAJIAN TEORI

A.    Merintis Usaha Baru
Menurut Lambing, ada dua pendekatan utama yang digunakan wirausaha untuk mencari peluang dengan mendirikan usaha baru :
1.      Pendekatan inside-out atau idea generation adalah pendekatan berdasarkan gagasan kunci yang menentukkan keberhasilan usaha.
2.      Pendekatan outside-in atau opportunity recognition adalah pendekatan yang menekan basis ide merespons kebutuhan pasar sebagai kunci keberhasilan.
Dalam merintis usaha baru, terdapat beberapa hal yang harus diperhatikan :
1.      Bidang dan jenis usaha yang dimasuki
2.      Bentuk usaha dan kepemilikan yang akan dipilih
3.      Tempat usaha yang dipilih
4.      Organisasi usaha yang akan digunakan
5.      Jaminan usaha yang mungkin diperoleh
6.      Lingkungan usaha yang berpengaruh
Bidang dan jenis usaha yang dimasuki
1.      Pertanian, meliputi usaha pertanian, kehutanan, perikanan dan perkebunan
2.      Pertambangan, meliputi usaha galian pasir, galian tanah, batu, dan bata
3.      Pabrikasi, meliputi usaha industri, perakitan, dan sintesis
4.      Kontruksi, meliputi usaha konstruksi bangunan, jembatan, pengairan dan jalan raya
5.      Perdagangan, meliputi usaha perdagangan kecil (ritel), grosir, agen, dan ekspor impor
6.      Jasa Keuangan, meliputi usaha perbankan, asuransi, dan koperasi.
7.      Jasa perorangan, meliputi usaha potong rambut, salon, laundry
8.      Jasa umum, meliputi usaha pengangkutan, pergudangan, wartel, dan distribusi
9.      Jasa wisata, meliputi jasa biro perjalanan wisata, jasa agen perjalanan wisata, dll
B.     Ide Mendirikan Usaha Baru
Beberapa penelitian telah berusaha mencoba untuk menemukan tempat bermulanya ide pendirian bisnis berskala kecil. National  Federation of Independent Business Foundation, menemukan bahwa “pengalaman kerja terdahulu”  menyebabkan 45% ide baru. “Minat pribadi” berjumlah 16% dari total penelitian, dan “munculnya kesempatan” berjumlah 11%.
Longenecker, et. all, (2001) mengungkapkan beberapa sumber ide awal pendirian usaha baru, perusahaan. Sumber ide awal tersebut dapat berasal dari:
1)      Pengalaman pribadi
Dasar utama ide awal adalah pengalaman pribadi, baik saat bekerja maupun di rumah. Pengetahuan yang didapatkan dari pekerjaan yang terakhir maupun sekarang seringkali membuat seseorang untuk melihat kemungkinan untuk memodifikasi produk yang telah ada, memperbaiki pelayanan, menduplikasi konsep bisnis dalam lokasi berbeda.
2)     Minat
Kadangkala minat tumbuh di luar statusnya sebagai minat dan menjadi bisnis. Misalnya, seorang murid yang suka berolahraga ski mungkin dapat memulai bisnis penyewaan alat-alat ski. Dengan demikian, ia mendapatkan penghasilan dari kegiatan yang dia senangi.
3)     Penemuan secara tidak sengaja
Penemuan secara tidak sengaja melibatkan sesuatu yang disebut serendipitas (kemampuan menemukan sesuatu) atau sejenis kemampuan untuk membuat penemuan yang diinginkan secara tidak sengaja.
4)      Relasi atau bisnis keluarga
Ada pepatah bisnis adalah menjaga hubungan dan memperbanyak relasi. Relasi adakalanya kerjasama yang akan memunculkan ide melakukan usaha baik secara bersama maupun mandiri. Jika orang tua melakukan bisnis suka tidak suka, mau tidak mau, anak dan keluarga akan merasakan susah-enaknya berbisnis. Sekali waktu anak dan anggota keluarga akan menemukan ide bisnis yang kadang apabila diterapkan akan berjalan.
5)      Pencarian ide dengan penuh pertimbangan
Sebuah ide awal dapat muncul dari percobaan yang dilakukan oleh wirausaha kan ide baru. Usaha pencarian yang sedemikian rupa dapat berguna karena hal tersebut merangsang kesiapan pikiran, contoh wirausaha yang berpikir serius mengenai ide bisnis baru akan lebih dapat menerima ide baru dari berbagai sumber. Majalah dan tabloid lainnya merupakan sumber yang bagus untuk memperoleh ide awal. Salah satu cara membangkitkan ide awal adalah membaca tentang kreativitas wirausaha lain.
Alasan Mendirikan Usaha Baru
Berikut ini beberapa alasan orang-orang ingin mendirikan usaha baru:
1)     Menampilkan penemuan terbaru atau barang / jasa terbaru yang dikembangkan
2)     Mengambil keuntungan dari lokasi, peralatan, produk atau layanan, pekerjaan , pemasok, dan bankir yang ideal.
3)      Menghindari pendahuluan yang tidak diinginkan, kebijaksanaan proses, dan ikatan sah dari perusahaan yang ada. Preseden, kebijakan, prosedur, komitmen hukum dari perusahaan yang sudah ada yang tidak diinginkan.
C.  Cara Memasuki Usaha
Sebagai pengelola dan pemilik usaha atau pelaksana usaha kecil wirausaha dapat memilih dan melakukan tiga cara yang dapat dilakukan oleh seseorang apabila ingin memulai suatu usaha atau memasuki dunia usaha yaitu :
1)      Merintis usaha baru
Memulai usaha dimulai dari ide dasar yang kuat, bisa diwujudkan dan penuh pertimbangan muncul karena kreativitas dan inovasi. Merintis udaha baru dimulai dengan adanya ide dasar (longenecer, et. all, 2001);
a.    Ide awal penyediaan produk yang sudah ada, tapi belum tersedia pasar bagi konsumen
b.    Ide awal yang melibatkan teknologi baru, yang didasarkan bagi penyediaan produk baru pada konsumen
c.     Ide awal yang didasarkan pada penyediaan produk yang telah diperbarui bagi konsumen
Merintis usaha baru perlu memperhatikan beberapa hal penting agar usaha tersebut mampu tumbuh dan berkembang dalam jangka panjang. Hal penting tersebut adalah:

a.       bidang, jenis usaha yang dimasuki
b.      bentuk usaha dan kepemilikan
c.       tempat usaha yang dipilih
d.      organisasi usaha
e.       jaminan usaha
f.        lingkungan usaha yang berpengaruh

Secara umum, ada 3 (tiga) bentuk usaha baru yang dapat dirintis yaitu:
a.       Perusahaan milik sendiri (sole proprietorship), bentuk usaha yang dimiliki dan dikelola sendiri oleh seseorang
b.      Persekutuan (partnership), suatu kerjasama (asosiasi) dua orang atau lebih yang secara bersama-sama menjalankan usaha bersama
c.       Perusahaan berbadan hukum (corporation), perusahaan yang didirikan atas dasar badan hukum dengan modal saham-saham.
2)      Membeli perusahaan lain
Adakalanya wirausaha menjual usaha kepada wirausaha lain karena suatu hal. Wirausaha yang akan melakukan pembelian perlu mempertimbangkan resiko-resikonya dan harus dilakukan dengan hati-hati. Banyak alasan mengapa seseorang memilih membeli perusahaan yang sudah ada daripada mendirikan atau merintis usaha baru, antara lain:
a.       resiko lebih rendah
b.      lebih mudah dalam memasuki dunia usaha
c.       memiliki peluang untuk membeli dengan harga yang dapat ditawar.
Untuk menghindari kerugian yang sangat mahal, seorang wirausaha harus memperhatikan hal-hal kritis dalam analisis pembelian seperti berikut:
a.       alasan pemilik menjual sebuah usaha
b.      bagaimana kondisi fisik perusahaan
c.       potensi produk dan jasa yang dihasilkan
d.      aspek legal yang perlu diperhatikan
e.       kondisi keuangan masa sebelumnya, kini, dan prospek masa depan.
Membeli bisnis yang sudah ada apabila dilakukan dengan pengamatan sampai implementasi pembelian dengan tepat akan mendatangkan beberapa keuntungan seperti:
a.       Apabila sebelumnya perusahaan sudah berhasil, maka dimungkinkan ke depan dapat terus berhasil
b.      Bisnis yang sudah ada mungkin telah berada pada lokasi yang baik
c.      Sudah memiliki karyawan, peralatan, persediaan, pelanggan, dan pemasok
d.      Pemilik baru dapat langsung menjalankan bisnis
e.      Pemilik baru dapat memanfaatkan pengalaman pemilik sebelumnya.
Namun tidak selamanya membeli perusahaan lain mendatangkan keuntungan. Berikut beberapa kelemahan dari membeli usaha:
a.       Ada kecenderungan nilai perusahaan rendah
b.      Pemilik lama mungkin sudah menciptakan citra buruk
c.       Karyawan lama mungkin tidak sesuai dengan perubahan pemilik baru
d.       Lokasi, fasilitas, persediaan mungkin sudah usang
e.       Perubahan dan inovasi sulit dijalankan
3)      Bisnis keluarga
Bisnis keluarga adalah sebuah lembaga bisnis/perusahaan yang anggota keluarganya secara langsung terlibat di dalam kpemilikan dan atau jabatan/fungsi dalam perusahaan. Meskipun pendiri merupakan kekuatan uatama dalam memulai perusahaan wirausaha, kebutuhan akan dukungan bisnis dan bantuan keuangan akan membuat pengelola mempercayai anggota keluarga dari pada orang lainyang belum begitu dikenal. Cepat atau lambat, pendiri akan melibatkan pasangan dan anggota keluarga ke dalam bisnis, dengan beberapa alasan, standar hidup keluarga terkait langsung dengan abisnis dan keluarga merupakan aset yang berharga bagi seseorang.

Contoh Kasus

Es Krim Sepatu Cibaduyut Pujaseksi Kuliner Unik









Berbicara tentang Cibaduyut, pasti semua orang Indonesia dijamin sudah pada mengenalnya dengan baik. Kawasan ini dikenal sebagai sentra produksi industri rumahan dengan tangan ( Handmade ) sepatu kulit dan produk lainnya yang berbahan dasar dari kulit. Namun faktanya, tidak semua sepatu buatan Cibaduyut ini hanya digunakan sebagai alas kaki saja, kini sepatu Cibaduyut pun ternyata bisa dikonsumsi. Sepatu Cibaduyut yang bisa anda makan saat ini adalah hanya baru bisa ditemukan di kota Bandung di rumah makan Pujaseksi milik seorang bapak yang kreatif yang menciptakan makanan khas Bandung yang enak dan baru, yaitu Raditya Priyatama. Bapak berusia 44 tahun ini berhasil menciptakan kuliner es krim di Bandung berbentuk sepatu yang rasanya sangat lezat. Es krim unik sepatu Cibaduyut dapat dikunjungi di kedai makan Pujaseksi, yang lokasinya persis berada di pusat wisata belanja kerajinan kulit terbesar dan tertua yang ada di kota Bandung yaitu beberapa meter saja dari Tugu Sentra Industri Sepatu Cibaduyut.
Ide ini ia temukan ketika mendapati bahwa wisatawan yang berkunjung ke Cibaduyut, pasti hanya untuk berbelanja sepatu saja, dan selama ini terlupakan bahwa menciptakan suatu wisata kuliner yang unik pastinya akan menjadi nilai lebih serta daya tarik tambahan untuk wisatawan yang datang ke Cibaduyut.
Raditya menjelaskan bahwa ketika mau memulai usaha bisnis kuliner es krim sepatu Cibaduyut Pujaseksi, ia berpikir keras bagaimana caranya menemukan ikon kuliner, baik makanan atau minuman yang bisa mempresentasikan bahwa kehadirannya akan mewakili tempat sepopuler Cibaduyut juga sebagai sentra industri sepatu. Kemudian terbersitlah ide meracik kuliner baru es krim dengan bentuk sepatu, karena menurutnya selain unik dan belum ada, juga es krim adalah makanan yang banyak disukai berbagai kalangan usia dan golongan.
Analisis kasus
Berdasarkan kasus diatas, pemilik rumah makan Pujaseksi  (Raditya Priyatama) mendirikan usaha tersebut berdasarkan pendekatan outside-in atau opportunity recognition. Beliau juga memperhatikan bidang dan jenis usaha yang dimasuki, bentuk usaha dan kepemilikan yang akan dipilih, tempat usaha yang dipilih, lingkungan usaha yang berpengaruh dan beliau juga menemukan ide kreatif dan unik.

KESIMPULAN
Dalam merintis usaha baru itu ada pendekatan inside-out atau idea generation dan pendekatan outside-in atau opportunity recognition. Sumber ide awal tersebut dapat berasal dari:
1)      Pengalaman pribadi
2)     Minat
3)     Penemuan secara tidak sengaja
4)      Relasi atau bisnis keluarga
5)      Pencarian ide dengan penuh pertimbangan


Ada 3 (tiga) bentuk usaha baru yang dapat dirintis yaitu:
a.       Perusahaan milik sendiri (sole proprietorship), bentuk usaha yang dimiliki dan dikelola sendiri oleh seseorang
b.      Persekutuan (partnership), suatu kerjasama (asosiasi) dua orang atau lebih yang secara bersama-sama menjalankan usaha bersama
c.       Perusahaan berbadan hukum (corporation), perusahaan yang didirikan atas dasar badan hukum dengan modal saham-saham.

DAFTAR PUSTAKA

Suryana. 2006. Kewirausahaan Pedoman Praktis:Kiat dan Proses Menuju Sukses. Jakarta: Salemba4

Minggu, 05 Juni 2016

MANAJEMEN USAHA DAN STRATEGI PUSAT OLEH OLEH ( DEWATA) BALI



MANAJEMEN USAHA DAN STRATEGI PUSAT OLEH OLEH ( DEWATA) BALI

Dra. Entri Sulistari Gundo, M.Si.
Donald Samuel Slamet Santosa, S.Pd., M.Pd.





 










  


Oleh :
Erin Putri Mardiana           (162014004)
Jiyem                                  ( 162014017)
Desi Catur Wulandari        (162014024)



FKIP ( PENDIDIKAN EKONOMI )
UNIVERSITAS KRISTEN SATYA WACANA 2014/2015
Jl. Diponegoro 52-60, Salatiga 50711 Telp. (0298) 311412, Fax (0298) 31141




BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang

Dewata Bali merupakan pusat oleh – oleh Bali yang menjual berbagai produk seperti Kaos sablon, Bordir, konveksi, dan pie susu. Pie susu ini merupakan produk terbaru dari pusat oleh – oleh Dewata. Pemilik  usaha membuat inovasi baru pie susu yang berbeda dengan tempat oleh – oleh yang lain yaitu pada resep pie susu yang tidak menggunakan gula sebagai pemanis melainkan menggunakan susu.
Pusat oleh – oleh Dewata memberikan kenyamanan bagi pengunjung dan memprioritaskan kwalitas yang baik dan harga yang terjangkau. Pengunjung juga bisa melihat langsung proses pembuatan dari masing – masing produk seperti kaos sablon, pembuatan pie susu, konveksi, dan bordir.

1.2  Rumusan Masalah
1.      Bagaimana cara merintis usaha pusat oleh – oleh Dewata Bali ?
2.      Bagaimana mempertahankan eksistensi usaha pusat oleh – oleh dewata Bali ?
3.      Bagaimana strategi pemasaran  produk Dewata Bali ?
4.      Hambatan yang di hadapi dalam menjalani usaha pusat oleh – oleh Dewata Bali ?

1.3  Tujuan Penelitian
1.      Untuk mengetahui cara merintis usaha oleh – oleh Dewata Bali
2.      Untuk mengetahui mempertahankan eksistensi usaha oleh-oleh Dewata Bali
3.      Untuk mengerti tentang strategi pemasaran oeh – oleh Dewata Bali
4.      Untuk mengetahui hambatan yang dihadapi dalam menjalani usaha oleh – oleh Dewata Bali.






BAB II
KAJIAN TEORI
MANAJEMEN KEWIRAUSAHAAN
Manajemen kewirausahaan menyakut semua kekuatan perusahaan yang menjamin bahwa  usahanya betul-betul eksis. Bila usaha baru ingin berhasil, maka wirausaha harus memiliki empat kompetensi diantaranya :
1.      Fokus pada pasar, bukan pada teknologi
2.      Buat ramalan pendanaan untuk menghindari tidak terbiayaianya perusahaan
3.      Bangun tim manajemen, bukan menonjolkan perorangan (not a one-person show)
4.      Beri peran tertentu, khusus bagi wirausaha penemu.
Strategi kewirausahaan menyakut kesesuain kemampuan internal dan aktivitas perusahaan dengan lingkungan eksternal, dimana perusahaan harus bersaing dengan menggunakan keputusan-keputusan strategis. Dalam strategi usahanya, wirausaha biasanya menggunakan salah satu strategi dari empat strategi, sebagai berikut :
1.      Berada pertama di pasar dengan produk dan jasa yang baru
2.      Posisikan produk dan jasa baru tersebut pada relung pasar (niche market ) yang tidak terlayani.
3.      Fokuskan barang dan jasa pada relung yang kecil tetapi bisa bertahan
4.      Mengubah karakteristik produk, pasar dan industri.

STRATEGI USAHA
Menurut Morrisey 
Strategi ialah proses untuk menentukan arah yang harus dituju oleh perusahaan supaya dapat tercapai segala misinya.
Menurut Syafrizal.
Strategi ialah cara untuk mencapai sebuah tujuan berdasarkan analisa terhadap faktor eksternal dan internal.
Menurut A.Halim.
Strategi merupakan suatu cara dimana sebuah lembaga atau organisasi akan mencapai tujuannya sesuai peluang dan ancaman lingkungan eksternal  yang dihadapi serta kemampuan internal dan sumber daya.

Strategi  merupakan suatu proses yang dilakukan oleh pelaku usaha untuk mencapai tujuan yang diinginkan sesuai dengan rencana yang sudah disepakati didalam suatu perusahaan tersebut.

Ada lima strategi dalam memenuhi permintaan konsumen yaitu :
1.      Berorientasi pada pelangan.
2.      Mengutamakan kualitas.
3.      Memfokuskan perhatian dan kesenangan hidup
4.      Berorientasi pada inovasi
5.      Mempercepat waktu baik dalam menempatkan produk baru maupun dalam menanggapi keinginan konsumen.

Jenis-jenis strategi adalah sebagai berikut:
1.    Strategi Intregasi
     Integrasi ke depan, integrasi ke belakang, integrasi horizontal kadang semuanya disebut sebagai integrasi vertikal. Strategi integrasi vertikal memungkinkan perusahaan dapat mengendalikan para distributor, pemasok, dan / atau pesaing.
2.      Strategi Intensif
Penetrasi pasar, dan pengembangan produk kadang disebut sebagai strategi intensif
karena semuanya memerlukan usaha-usaha intensif jika posisi persaingan perusahaan dengan produk yang ada hendak ditingkatkan.
3.      Strategi Diversifikasi
Terdapat tiga jenis strategi diversifikasi, yaitu diversifikasi konsentrik, horizontal, dan konglomerat. Menambah produk atau jasa baru, namun masih terkait biasanya disebut diversifikasi konsentrik. Menambah produk atau jasa baru yang tidak terkait untuk pelanggan yang sudah ada disebut diversifikasi horizontal. Menambah produk atau jasa baru yang tidak disebut diversifikasi konglomerat.
4. Strategi defentif
Disamping strategi integrative, intensif, dan diversifikasi, organisasi juga dapat menjalankan strategi rasionalisasi biaya, divestasi, atau likuidasi.
Rasionalisasi Biaya, terjadi ketika suatu organisasi melakukan restrukturisasi melalui penghematan biaya dan aset untuk meningkatkan kembali penjualan dan laba yang sedang
menurun. Kadang disebut sebagai strategi berbalik (turn a round) atau reorganisasi, rasionalisasi biaya dirancang untuk memperkuat kompetensi pembeda dasar organisasi. Selama proses rasionalisasi biaya, perencana strategi bekerja dengan sumber daya terbatas dan menghadapi tekanan dari para pemegang saham, karyawan dan media. Divestasi adalah menjual suatu divisi atau bagian dari organisasi. Divestasi sering digunakan untuk meningkatkan modal yang selanjutnya akan digunakan untuk akusisi atau investasi strategis lebih lanjut. Divestasi dapat menjadi bagian dari strategi rasionalisasi biaya menyeluruh untuk melepaskan organisasi dari bisnis yang tidak menguntungkan, yang memerlukan modal terlalu besar, atau tidak cocok dengan aktivitas lainnya dalam perusahaan. Likuidasi adalah menjual semua aset sebuah perusahaan secara bertahap sesuai nilai nyata aset tersebut. Likuidasi merupakan pengakuan kekalahan dan akibatnya bisa merupakan strategi yang secara emosional sulit dilakukan. Namun, barangkali lebih baik berhenti beroperasi daripada terus menderita kerugian dalam jumlah besar.
5.  Strategi Umum Michael Porter
Menurut Porter, ada tiga landasan strategi yang dapat membantu organisasi memperoleh keunggulan kompetitif, yaitu keunggulan biaya, diferensiasi, dan fokus. Porter menamakan ketiganya strategi umum.
Keunggulan biaya menekankan pada pembuatan produk standar dengan biaya per unit sangat rendah untuk konsumen yang peka terhadap perubahan harga. Diferensiasi adalah strategi dengan tujuan membuat produk dan menyediakan jasa yang dianggap unik di seluruh industri dan ditujukan kepada konsumen yang relatif tidak terlalu peduli terhadap perubahan harga. Fokus berarti membuat produk dan menyediakan jasa yang memenuhi keperluan sejumlah kelompok kecil konsumen.
(David,p.231,2004)  

BAB III
Metode Penelitian

Jenis Penelitian

Jenis penelitian yang digunakan yaitu penelitian kualitatif. Berfokus ke  manajemen usaha dan strategi usaha didaerah Bali terutama di pusat oleh-oleh Dewata.

Jenis dan Sumber Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Data primer diperoleh dengan cara wawancara dan observasi secara langsung dengan pemilik pusat oleh – oleh Dewata Bali namun diwakilkan oleh salah satu marketing perusahaan tersebut karena pemilik berhalangan hadir.

Teknik  Pengumpulan Data

Teknik yang digunakan dalam penelitian ini adalah :
1.      Studi Pustaka, Yaitu pengumpulan data yang dilakukan dengan mengkaji buku-buku maupun jurnal  ilmiah untuk memperoleh landasan teoritis yang sesuai dengan penelitian ini.
2.      Wawancara, observasi.

BAB IV
PEMBAHASAN
Cara merintis usaha pusat oleh – oleh Dewata Bali
Kisah berdirinya pusat perbelanjaan Wisata Belanja Dewata Pusat Oleh-Oleh Khas Bali ini, bermula pada tahun 1990, saat ia kuliah di Fakultas Hukum Universitas Warmadewa Denpasar.  Saat itu ia berkenalan dengan Gusti Putu Darmayuda, atau Agung Darmayuda seorang pegawai negeri di Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Denpasar.
Dari perkenalan ini keduanya saling menaruh perhatian dan berujung pada jatuh hati. Namun sayang, hubungan itu tidak mendapat restu orang tua Kadek. Tentu ini membuat hatinya teriris, pedih dan kecewa. Orang tua Kadek yang saat itu melihat sosok Agung bukan pria yang layak untuk menda
mpingi putrinya. Padahal Bagi Kadek, cinta bukan melihat penampilan dan kekayaan. Cinta itu muncul dari ketulusan hati yang paling dalam jujur dan apa adanya.
Kadek berada ada di persimpangan jalan. Jika menuruti kehendak orang tua, hatinya hancur karena harus berpisah dengan pria yang dicintainya. Namun jika membangkang kehendak orang tua, resikonya ia harus bisa hidup mandiri. Atau paling tidak, akan menimbulkan ketidaknyamanan hubungan antara anak dan orang tua. Diantara dua pilihan yang sama-sam
a berat itu akhirnya ia memilih untuk mendampingi pria yang dicintainya. Perasaan gundah dan sedih ini justru membangkitkan semangat dan keberanian untuk belajar hidup mandiri.

Sekeluarnya dari perusahaan garmen itu kemudian muncul ide untuk mencari order yang bisa dikerjakan di rumah, yakni pembuatan mute dan sekuin. Pekerjaan borongan ini bisa dikerjakan sendiri di rumah selebihnya dilimpahkan kepada masyarakat sekitarnya. Dengan begitu, ia juga bisa memberikan pekerjaan kepada masyarakat di sekitarnya sekaligus ikut menumbuhkembangkan home industri.
Ide itu juga disetujui oleh sang pacar yakni Agung, sehingga ia semakin bersemangat. Keseriusannya dalam menjalankan usaha di rumah itu akhirnya ia mendapat kepercayaan dan order pembuatan sekuin untuk 1000 baju. Borongan pekerjaan itu kemudian dibawa pulang untuk dikerjakan di rumah selebihnya ia diberikan kepada tetanggga dikampung dan daerah lain seperti Negara, dan Singaraja.
Karena kerepotan maka di rumah akhirnya kadek imawati merekrut tiga karyawan. Bermodalkan KTP sang pacar ternyata Bank percaya untuk memberikan pinjaman modal. Waktu itu ia sempat berbohong bahwa kami suami istri.
Pinjaman modal sebesar Rp 200 ribu untuk membeli bahan sekuin. Dalam perjalanannya, usahanya terus mengalami perkembangan. Kadek pun merambah ke desain yang karya-karya banyak diminati . Kemudian ia mendapat order dengan harga lumayan. Bahkan hasilnya bisa untuk membeii mobil.
Saya dengan Pak Agung merasa bahagia sekali karena sebelumnya kalau mau apel, Pak Agung ke rumah jalan kaki karena sepeda pun tak punya,” paparnya. Dalam perkembangannya, Tuhan terus memberikan jalan terbaik. Selama tiga setengah tahun perjalanan usahanya itu terus mengalami perkembangan. Melihat kesungguhan putri dan calon pasangannya itu, yang tadinya orangtua tidak menyetujui hubungan itu akhirnya luluh dan kemudian tahun 1994 ia menikah. Setahun kemudian lahir anak pertama dengan nama Angga.
Usahanya kian maju dan berhasil mendirikan usaha lain yang sinergi dengan konveksi yakni Angga Collection bergerak di bidang konveksi, Dewata Kaos, pusat oleh-oleh, dewata gym dan dwik b
ordir.
Mempertahankan eksistensi usaha pusat oleh – oleh dewata Bali
Strategi perusahaan dalam menghadapi persaingan
Setiap perusahaan bersaing melakukan strategi pemasaran agar tetap eksis dalam dunia usaha. Perubahan ini menuntut kreativitas setiap perusahaan agar dapat menyempurnakan dan
mengembangkan produk yang ada. Pengembangan produk baru ini akan membentuk masa depan perusahaan. Dalam hal ini strategi pemasaran bisa yang dilakukan oleh dewata konveksi yang dilakukan yaitu dengan pengembangan produk baru melalui beberapa macam strategi yang dapat dilakukan oleh perusahaan, salah satunya adalah strategi diversifikasi produk. Strategi yang digunakan oleh perusahaan dapat berbeda-beda yang kesemuanya itu berdasarkan kepada kebijakan perusahaan atau juga disesuaikan dengan Visi dan Misi serta tujuan perusahaan dan kondisi lingkungan yang mempengaruhi perusahaan tersebut. Dewata konveksi mencoba untuk membuat apa saja yang bisa terjual dan menerapkan berbagai strategi untuk memasarkan produknya sehingga dapat mengungguli persaingan. Dengan demikian hal yang perlu untuk dipahami adalah bagaimana industry ini mempertahankan posisi pasar dengan strategi-strategi khusus. Strategi merupakan tindakan incremental (senantiasa meningkat) dan terus menerus dilakukan berdasarkan sudut pandang tentang apa yang diharapkan oleh pelanggan dimasa depan. Dengan strategi yang tepat, seluruh sumberdaya perusahaan
dikerahkan menjadi kekuatan yang luar biasa besarnya untuk diarahkan kepada pencapaian misi perusahaan sehingga
menjanjikan ketercapaian visi. Kebutuhan untuk memformulasikan strategi biasanya muncul sebagai respon terhadap ancaman yang diterima (misalnya, banyak pendatang baru pada bidang yang sama,pergeseran selera konsumen, atau peraturan pemerintah yang baru) atau kesempatan (misalnya, inovasi teknologi, pengembangan aplikasi baru dari produk yang sudah ada, atau deversifikasi produk). Diversifikasi ialah usaha memperluas macam barang yang akan dijual dan merupakan sebuah strategi perusahaan untuk menaikkan penetrasi pasar. Ini merupakan usaha yang berlawanan dengan spesialisasi. Ada berbagai alasan-alasan yang mendorong perusahaan dewata konveksi mengadakan diversifikasi produk. Keinginan mengadakan perluasan usaha menjadi pendorong utama. Kegiatan menjadi serba besar, kemungkinan mendapatkan keuntungan juga akan lebih besar, karena diproduksikan sejumlah besar barang yang dibutuhkan konsumen atau paling tidak pendapatan stabil, sebab kerugian menjual barang yang satu dapat ditutup dengan keuntungan menjual barang yang lain. Dalam lingkungan bisnis strategi diversifikasi produk merupakan salah satu strategi yang bijak untuk diimplementasikan dalam perusahaan agar perusahaan tetap bertahan eksistensinya. Selain itu dewata konveksi menggunakan beberapa kekuatan yang dimilikinya untuk tetap mampu bersaing dengan perusahaan lain. Hal ini dilakukan dengan tetap menggunakan bahan dasar kain kaos yang bagus untuk pembuatan barangnya dan yang pasti menggunakan keahlian pemilik yang memiliki pengetahuan sangat bagus mengenahi berbagai macam kain serta hanya meproduksi barang di satu tempat saja. Dewata konveksi juga menjalin hubungan baik dengan para pengusaha lain bahkan mau bekerja sama tanpa memilikan bahwa mereka adalah pesaing sehingga dengan ini para pengusaha pengusaha ini mampu mengembangkan usahanya bersama-sama di jalurnya masing-masing.
Strategi pemasaran
Cara pemasarannya yaitu dengan adanya marketing, dan disitu pemilik tersebut terjun langsung dalam hal pemasaran dan dibantu oleh beberapa tenaga marketing lainnya yang ada di dalam maupun di luar Bali.
Kekuatan dan kelemahan yang dialami
Kekuatan Perusahaan
Ada beberapa hal yang menjadi kekuatan dalam berjalannya usaha Dewata Konveksi ini yaitu :
1. Pemilik memiliki pengetahuan yang sangat baik mengenahi berbagai macam kain
2. Mengutamakan pelayanan yang sopan dan ramah terhadap pelanggan
3. Penggunaan kain dan sablon yang berkualitas tinggi (tidak pecah dan tidak lengket)
4. Mendidik karyawan dari yang belum berpengalaman dan tidak berpendidikan menjadi tenaga yang terampil
Kelemahan Perusahaan
Dalam pelaksanaan perkembangan usaha Dewata konveksi ada juga hal-hal yang menjadikan kelemahan usaha ini yaitu :
1. Strategi pemasaran masih sangat rendah / minim
2. Pemilik harus turun langsung menjadi pemasar
3. Tidak dilakukan promosi dan periklanan secara rutin
4. Kurang luasnya lahan parkir saat kondisi ramai



Daftar pustaka
Suryana. 2006. Kewirausahaan Pedoman Praktis:Kiat dan Proses Menuju Sukses. Jakarta: Salemba4
Musyadar Achmad. 2006. Kewirausahaan. Jakarta: Universitas Terbuka